Tampilkan postingan dengan label Biografi Pengusaha. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2012

Pengusaha | Biografi Sandiaga S Uno

Sandiaga Salahuddin Uno

"Milyarder di Usia Muda" 






      Bernama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno, adalah putra dari Mien R. Uno. Lahir di Rumbai, Pekanbaru, tanggal 28 Juni 1969, berdarah asli Gorontalo. Sosoknya yang murah senyum memang merupakan salah satu tokoh fenomena dalam belantara bisnis di Indonesia,bayangkan saja dalam usianya yang masih sangat muda, yaitu 43 tahun (2012), ia telah dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia nomor 29 oleh majalah internasional Forbes. Sandi, begitu sering ia dipanggil, mempunyai kekayaan sekitar Rp 8 Triliyun.

Karir

       Sandi, lulus kuliah dari Wichita State University yang berada di Kansas, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude. Setelah ia lulus, ia bekerja di Bank Summa pada 1990, yang merupakan bank milik boss Astra, William Soeryadjaja, sosok yang begitu berarti, sebagai mentor dalam berbisnis bagi Sandiaga S Uno. Setahun kemudian ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di George Washington University Amerika Serikat dari William Soeryadjaja. Ia pun lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK 4,00).
Karena efek dari perang Timur Tengah, Bank Summa akhirnya ditutup, dan Sandi tidak dapat melanjutkan kembali pekerjaannya di Bank tersebut. Pada tahun 1993 ia bergabung dengan Seapower Asia Investment Limited di Singapura sebagai manajer investasi sekaligus menjadi manajer investasi di MP Holding Limited Group di tahun 1994. Selanjutnya ia hijrah ke NTI Resources Ltd Kanada di tahun 1995. Di tempat tersebut, Sandi mendapat kepercayaan untuk menduduki posisi Excecutive Vice President NTI Resources Ltd dengan penghasilan 8000 dollar AS per bulan. 

         Mapan sejenak, Sandi kembali terempas. Perusahaan tempat dia bekerja tutup. Mau tidak mau, dia kembali ke tanah air. ”Saya berangkat dari nol. Bahkan, kembali dari luar negeri, saya masih numpang orang tua,” katanya.
        Sandi mengakui, dirinya semula kaget dengan perubahan kehidupannya. ”Biasanya saya dapat gaji setiap bulan, tapi sekarang berpikir bagaimana bisa survive,” tutur pria kelahiran Rumbai itu. Apalagi, ketika itu krisis.
       Dia kemudian menggandeng rekan sekolah semasa SMA, Rosan Roeslani, mendirikan PT Recapital Advisors. Pertautan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak William, Edwin Soeryadjaja.



Berbekal jejaring yang baik dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi sukses menjalankan bisnis tersebut. Mekanisme kinerja perusahaan tersebut adalah menghimpun modal investor untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang mengalami masalah keuangan. Kinerja perusahaan tersebut dibenahi, dikembangkan dan diperbaiki manajemennya, kemudian setelah kembali sehat perusahaan tersebut dijual kembali.

      Saratoga juga mempunyai saham besar di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.

      Sandi juga aktif dalam beberapa organisasi, ia sekarang menjabat sebagai anggota KEN (Komite Ekonomi Nasional) dan juga bendahara ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).

      Pada 2005-2008, Sandi menjadi ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia(HIPMI), Ia juga menjadi Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah(UMKM) di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sejak 2004.

Keluarga


      Di balik aktivitasnya yang padat, ia tidak lupa akan keluarganya, ia biasanya menjadikan hari Sabtu-Minggu sebagai hari keluarga, meskipun
 menjadikan Sabtu-Minggu sebagai hari untuk keluarga. Itu pun sangat terbatas. “Saya paling suka ke Senayan. Pasti Sabtu olahraga bareng keluarga di sana. Pagi lari, agak siang sedikit pukul-pukul bola, golf,” ceritanya.

     Kemudian, biasanya mereka sekeluarga jalan-jalan ke mal. “Sebenarnya, saya paling nggak suka ke mal. Tapi, ya sedikit menyenangkan anaklah,” kata Sandi yang mengaku tak tertarik terjun ke dunia politik.
Sandi lantas tertawa mengingat polah lucu sang anak itu. “Jujur, saya selalu ingin ada di samping mereka. Saya ingin memberikan yang terbaik,” tambahnya dengan mimik serius.
       Karena itu, Sandi kerap berangan-angan bahwa sehari itu bukan 24 jam. “Seandainya sehari itu ditambah empat jam saja, tambahan empat jam tersebut akan saya habiskan bersama keluarga,” tegasnya.



Penutup

    Sandi mengakui bahwa semua karir dan gemerlap kekayaan yang ia dapatkan selama ini, tidak serta merta dari hasil jerih payahnya saja. Semua itu juga berasal dari aktivitas ibadahnya yang tak pernah berhenti.

    "Jadi begini, ibadah itu kalau sudah rutin kita lakukan bukan lagi menjadi sebuah kewajiban tapi menjadi sebuah kebutuhan, Jadi kalau aku gak sholat dhuha sekali saja, tiba-tiba ada sesuatu yang hilang, aneh rasanya. Walaupun itu sunnah jadi terasa wajib. Dan aku ngerasain sekali hikmahnya, sudah 7-8 tahun ini rutin aku lakukan, rejeki itu seperti gak aku cari, semua datang sendiri." Ungkapnya

   Kini Sandi telah membeli beberapa perusahaan, seperti Bank Pundi dan juga membeli 51% saham Mandala Airlines, ia juga menjadi jajaran direksi beberapa perusahaan, seperti PT Adaro Indonesia, PT Indonesia Bulk Terminal, PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, Interra Resources Limited, PT i FORTE SOLUSI INFOTEK.

Pelajaran

1. Keberanian dan optimisme dalam memandang masa depan menjadi kunci menuju kesuksesan.
2. Bangunlah jaringan/jejaring relasi dalam berbisnis.
3. Kegagalan bukan halangan untuk meraih kesuksesan, gigih dan terus berupaya untuk berani mencoba adalah kunci kesuksesan.


Referensi:

buku "Never Give Up" oleh Kaefa Mirzani halaman 115


read more

Minggu, 23 September 2012

Pengusaha | Biografi Eka Tjipta Widjaja

Eka Tjipta Widjaja 

"Sukses Hanya Dengan Ijazah SD"


eka tjipta widjaja, biografi eka tjipta widjaja
EKA TJIPTA WIDJAJA


Pendahuluan

   Eka Tjipta Widjaja, lahir di Hokian, China, 3 Oktober 1923 dengan nama asli Oei Ek Tjhong. Beliau merupakan pendiri Sinar Mas Group, PT Tjiwi Kimia, dan memiliki perusahaan-perusahaan lainnya yang beliau kelola. Di dalam dunia bisnis Indonesia, nama beliau tidak diragukan lagi,ini semua berkat keuletan dan kerja kerasnya sewaktu kecil, sehingga sekarang beliau berhasil menduduki posisi ketiga dalam daftar sepuluh orang terkaya di Indonesia(versi majalah Forbes). Di balik kesuksesan beliau dalam menggeluti dunia bisnis, ternyata beliau tidak pernah mengenyam pendidikan dengan sempurna, beliau hanya memiliki ijazah SD, hal ini dikarenakan keluarga beliau yang tidak kaya.

Perjalanan Hidup

     Eka Tjipta Widjaja, pada tahun 1932,bersama ibunya hijrah dari China ke Indonesia, tepatnya Makassar, ketika usia beliau 9 tahun. Setiba di Makassar, Eka kecil segera membantu ayahnya berjualan di toko yang dimiliki ayah beliau. Tujuannya jelas, segera mendapatkan 150 dollar, guna dibayarkan kepada rentenir. Dua tahun kemudian hutang pun terbayar, toko ayahnya maju, dan Eka pun bersekolah. 

      Karena masalah ekonomi, Eka kecil tak mampu melanjutkan sekolahnya, dan hanya  mendapatkan ijazah SD. Eka kecil pun mulai berjualan, berlandaskan pengalamannya dalam berjualan yang telah membentuknya menjadi seorang pedagang, beliau memulai usahanya dari berjualan biskuit, kembang gula, barang bekas sisa peledakan pelabuhan semen, pemborong rumah, bisnis minyak kelapa, grosir makanan, kopra, dll. Tetapi itu semua tidak semudah, dan semulus kenyataannya, penuh lika liku dan tantangan, serta masalah yang beliau hadapi. 
      Sampai akhirnya pada usia senja beliau mendirikan PT Tjiwi Kimia yang bergerak di bidang bahan kimia, yang kemudian berkembang menjadi pabrik kertas, mendirikan PT Smart perkebunan kelapa sawit. Pada usia 59 tahun, memiliki BII, saat ini Sinarmas Group mengoperasikan Bank Sinarmas. dan pada usia 61 tahun, beliau membeli perusahaan kertas PT Indah Kiat Pulp&Paper di Tangerang, setelah 10 tahun beliau membeli perusahaan tersebut produksi Indah Kiat yang semula 50.000 ton per tahun menjadi 700.000 ton per tahun.


Lika-Liku dalam Berdagang dan Bekerja

eka tjipta widjaja, biografi eka tjipta widjaja
Eka Tjipta Widjaja2
      Eka Tjipta Widjaja, pada usia 15 tahun, mencoba  dengan berjualan kembang gula dan biskuit. Beliau memulai usahanya dengan tanpa modal, beliau mengambil barang dagangan terlebih dahulu, dan membayarnya bila barang dagangan tersebut laku. Akan tetapi pada awalnya beliau ditolak oleh pemilik toko grosir. Dalam keadaan seperti ini, beliau tidak patah arang, di dalam pikiran beliau, hanya ada satu keinginan untuk survive demi merubah nasib keluarganya. Akhirnya dengan bermodal ijazah SD beliau sebagai jaminan, beliau dapat dipercaya oleh orang/pemilik toko grosir untuk menjualkan barang dagangannya.

    Eka Tjipta adalah anak yang ulet dan pekerja keras, bahkan beliau dengan semangat berjualan dengan sepedanya menjual barang dagangannya ke toko-toko di wilayah Makassar. Tidak heran, hanya dalam 2 bulan, beliau sudah mengail laba Rp 20, (harga beras masih 3-4 sen per kilogram), dan sudah dapat untuk membeli becak untuk mengangkut barang-barang dagangannya tersebut.
       
     Namun usaha tersebut hancur total, karena ulah Jepang yang menyerbu Indonesia, termasuk Makassar, tak ada barang lagi yang bisa dijual. Total keuntungan Rp 2000 yang beliau kumpulkan susah payah selama bertahun-tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari.

     Dalam keterpurukan, beliau tidak mudah menyerah, dan tidak mudah putus asa. beliau terus berusaha keras agar tujuannya untuk memperbaiki kehidupannya bisa terwujud nyata. Eka pun mengayuh sepedanya mengelilingi Makassar, sambil berpikir untuk mencari ide bisnis baru. Sampailah beliau di Paotere,  di situlah beliau melihat betapa ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Tetapi bukan tentara Jepang dan Belanda yang menarik Eka, melainkan bongkahan semen, besi-besi bekas dan barang lain-lainnya. Otak bisnis Eka segera berputar. 

      Eka pun bergegas pulang dan mengadakan persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Beliau merencanakan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu. Keesokan harinya, masih pukul empat subuh, Eka sudah di Paotere. Beliau membawa serta kopi, gula, kaleng bekas minyak tanah yang diisi air, oven kecil berisi arang untuk membuat air panas, cangkir, sendok dan sebagainya. Semula alat itu beliau pinjam dari ibunya. Enam ekor ayam ayahnya ikut beliau pinjam. Ayam itu dipotong dan dibikin ayam putih gosok garam. Beliau juga pinjam satu botol wiskey, satu botol brandy dan satu botol anggur dari teman-temannya.
Jam tujuh pagi beliau sudah siap jualan. 
     Benar saja, pukul tujuh, 30 orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja. Tapi sampai pukul sembilan pagi, tidak ada pengunjung. Eka memutuskan mendekati bos pasukan Jepang. Eka mentraktir si Jepang makan minum di tenda. Setelah mencicipi seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, minum dua teguk whisky gratis, si Jepang bilang joto. Setelah itu, semua anak buahnya dan tawanan diperbolehkan makan minum di tenda Eka. Tentu saja beliau meminta izin untuk mengangkat semua barang yang sudah dibuang. 




eka tjipta widjaja, biografi eka tjipta widjaja
eka tjipta widjaja3
     Segera Eka mengerahkan anak-anak sekampung mengangkat barang-barang itu dan membayar mereka 5 – 10 sen. Semua barang diangkat ke rumah dengan becak. Rumah berikut halaman Eka, dan setengah halaman tetangga penuh terisi segala macam barang. Beliau pun bekerja keras memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras ditumbuk kembali dan dirawat sampai dapat dipakai lagi. Beliau pun belajar bagaimana menjahit karung.
      Karena waktu itu keadaan perang, maka suplai bahan bangunan dan barang keperluan sangat kurang. Itu sebabnya semen, terigu, arak Cina dan barang lainnya yang beliau peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Beliau mulai menjual terigu. Semula terigu, hanya Rp. 50 per karung, lalu beliau menaikkan menjadi Rp. 60, dan akhirnya Rp. 150. Untuk semen, beliau mulai menjual Rp. 20 per karung, kemudian Rp. 40.
    Kala itu ada kontraktor hendak membeli semennya, untuk membuat kuburan orang kaya. Tentu Eka menolak, sebab menurut beliau, ngapain jual semen ke kontraktor? Maka Eka pun kemudian menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Beliau membayar tukang, Rp. 15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam kuburan mewah. Beliau mulai dengan Rp. 3.500 per kuburan, dan yang terakhir membayar Rp. 6.000. Setelah semen dan besi beton habis, beliau berhenti sebagai kontraktor kuburan.
    Setelah itu, beliau berdagang kopra, dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Beliau tidak mengeluh karena transportasi yang sulit saat itu.
     Eka pun mereguk laba besar, tetapi mendadak beliau nyaris bangkrut karena Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp. 1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp. 6. Eka rugi besar.
    Beliau pun mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Tapi ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, beliau rugi besar, modalnya habis lagi, bahkan berutang. Eka harus menjual mobil jip, dua sedan serta menjual perhiasan keluarga termasuk cincin kawin untuk menutup utang dagang.

“Saya Sungguh menyadari, saya bisa seperti sekarang karena Tuhan Maha Baik. Saya sangat percaya Tuhan, dan selalu ingin menjadi hamba Nya yang baik”

     Tapi Eka berusaha lagi. Dari usaha leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Usahanya juga masih jatuh bangun. Misalnya, ketika sudah berkibar tahun 1950-an, ada Permesta, dan barang dagangannya, terutama kopra habis dijarah oknum-oknum Permesta. Modal beliau habis lagi. Namun Eka bangkit lagi, dan berdagang lagi.
       Pada masa Orde Baru, usaha beliau berkembang, PT Tjiwi Kimia yang beliau dirikan dapat memproduksi 10.000 ton kertas, tahun 1980-1981 beliau membeli perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu hektar di Riau, mesin serta pabrik berkapasitas 60 ribu ton. Perkebunan dan pabrik teh seluas 1.000 hektar berkapasitas 20 ribu ton dibelinya pula.
      Tahun 1982, beliau membeli Bank Internasional Indonesia(BII), hingga sekarang BII memiliki 40 cabang dan cabang pembantu, dengan aset Rp 9,2 triliyun. PT. Indah Kiat juga beliau beli. Tidak hanya di bisnis kertas, perbankan dan minyak. Eka juga merambah bisnis real estate. Beliau bangun ITC Mangga Dua, ruko, apartemen lengkap dengan pusat perdagangan. Di Roxy beliau membangun apartemen Green View, di Kuningan ada Ambassador.
    “Saya Sungguh menyadari, saya bisa seperti sekarang karena Tuhan Maha Baik. Saya sangat percaya Tuhan, dan selalu ingin menjadi hamba Nya yang baik” katanya mengomentari semua suksesnya kini. “Kecuali itu, hematlah,” tambahnya.

    Beliau menyarankan, kalau hendak menjadi pengusaha besar, belajarlah mengendalikan uang. Jangan laba hanya Rp. 100, belanjanya Rp. 90. Dan kalau untung Cuma Rp. 200, jangan coba-coba belanja Rp. 210,” Waahhh, itu cilaka betul,” katanya.
eka tjipta widjaja, biografi eka tjipta widjaja
Eka Tjipta Widjaja4


Sisi Lain

      Pengalaman masa kecilnya yang jauh dari dunia pendidikan membuatnya menjadi seorang pemerhati pendidikan anak. Itulah yang membuat sosok Eka Tjipta mendapatkan rekor MURI karena jasanya dalam dunia pendidikan. Beliau banyak memberikan beasiswa kepada anak-anak usia sekolah.

      Eka Tjipta Widjaja juga seorang yang melakukan poligami dan dikenal memiliki banyak istri resmi dan tidak resmi melaui hubungan dengan wanita yang tak terhitung jumlahnya. Dan beliau dikabarkan telah menjadi bapak lebih dari 40 anak.


Pelajaran yang didapat :

1. Untuk Menjadi Sukses, Tidak Ada Cara yang Instan, Perlu Adanya Proses.
2. Kegagalan Tidak Akan Menjadi Penghalang, Jika Kita Memiliki Tekad yang Kuat.
3. Hematlah
4. Bersyukurlah selalu kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena Tuhan Itu Baik. 5. Nikmati Proses yang Ada, Jangan Mengeluh.
6. Tanpa Ijazah pun Kita Bisa Sukses, so Jangan Menyerah.


Referensi :



buku "Never Give Up" oleh Kefa Mirzani halaman 6
read more
Blogger Template by Clairvo